Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia akan melihat sekitarnya dan akan melihat sahabat-sahabatnya datang dan menghiburnya….

Punya kemampuan memang baik, Tapi kemampuan menemukan kemampuan dalam diri orang lain adalah tes yang sesungguhnya.

Berjalanlah serentak dalam berisan dan bersihkan udara

“Wanita yang cantik tanpa pribadi yang mulia ,umpama kaca mata yang bersinar-bersinar, tetapi tidak melihat apa-apa”

Hiasilah kehidupan ini dengan senyuman kerana ia melambangkan kehidupan yang harmoni.

Senin, 27 Oktober 2014

Menteri Perempuan Pertama dari Papua

Yohana Susana Yembise


Presiden Joko Widodo menunjuk Yohana Susana Yembise sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam Kabinet Kerja 2014-2019 di Istana Merdeka Jakarta, Minggu (26/10/2014) petang. Ia menggantikan Linda Amalia Sari pada Kabinet Indonesia Bersatu II era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2009-2014.
Penunjukan Yohana sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sudah diduga sebelumnya karena namanya santer disebut-sebut duduk dalam jabatan itu.

Yohana Susana Yembise merupakan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih Jayapura, Papua. Dia adalah perempuan pertama Papua yang diberi gelar guru besar oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai profesor doktor bidang desain silabus dan material development.

Istri dari Leo Danuwira ini lahir di Manokwari, 1 Oktober 1958. Yohana dikukuhkan menjadi profesor doktor oleh Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Papua, Festus Simbiak, di Auditorium Uncen, 14 November 2012. Sebelum Yohana didaulat menjadi profesor, dia memiliki segudang pengalaman dan jabatan dalam pekerjaan.

Dosen perempuan pertama Papua bergelar profesor ini menuntut ilmu di Sekolah Dasar (SD) Padang Bulan Jayapura hingga tahun 1971. Lalu, dia melanjutkan studinya di SMP Negeri 1 Nabire dan menyelesaikannya tahun 1974. Pendidikan selanjutnya di bangku SMA Negeri Persiapan Nabire.

Setelah lulus sekolah, tahun 1985, Yohana melanjutkan pendidikan sarjana (S-1) pada Program Studi Bahasa Inggris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Uncen. Semasa kuliah, dia bekerja sebagai asisten dosen di program studi yang digelutinya selama tiga tahun, yakni sejak 1983-1986.

Lompatan jabatan perempuan asli Papua ini boleh dibilang cepat. Tahun 1992 menjadi Diplomat Applied Linguistic TEFL (Dip TEFL) dari Regional English Language Centre (RELC), SEAMEO Singapore. Meski sudah bekerja, ia tetap bertekad untuk melanjutkan pendidikan. Pada 1994 ia menyelesaikan pendidikan di Faculty of Education, Simom Fraser University British Colombia Canada, dengan gelar Master of Art (MA).

Berbagai pengalaman semasa sekolah hingga menjajaki dunia kerja baik dalam negeri maupun luar negeri sudah dialami Yohana. Di antaranya, menjabat sebagai Ketua Tim Seleksi Guru Bahasa Inggris SMP, SMK, dan SMA di Kabupaten Merauke untuk persiapan pengiriman guru Bahasa Inggris ke Sunshine Coast University Australia. Pengalaman luar negeri, di antaranya, pernah sebagai anggota Joint Selection Team (JST) Australian Development Scholarship beasiswa ADS/USAID tahun 2011.

Segudang pengalaman organisasi juga dimiliki Yohana, di antaranya terlibat dalam kegiatan kesenian yang disponsori Badan Kesenian Daerah Kabupaten Paniai di Nabire sejak 1974-1978. Dia juga pernah menjadi Wakil Ketua KNPI Kabupaten Paniai tahun 1984.
Dari sejumlah pengalaman dan pekerjaan yang dialami, perempuan Biak ini menerima ratusan penghargaan dari berbagai pihak. Salah satu di antaranya adalah menerima surat tanda penghargaan pernyataan lulus seleksi sebagai mahasiswa teladan sejak 1981-1982 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.



Bukan hanya itu, sejak masih kuliah, Yohana termasuk salah satu peserta pertukaran pemuda antara Indonesia dan Kanada. Yohana Yembise juga terpilih mewakili Papua bersama pemuda Indonesia ke Kanada. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa orang papua bisa dan mampu menjadi panutan sekaligus contoh bagi putra putri asli papua agar lebih baik dalam berpendidikan dan nantinya agar ada penerus / pemimpin-pemimpin selanjutnya yang berasal dari Papua. a-p

Jumat, 03 Oktober 2014

BUKANKAH HIDUP BERDAMPINGAN ITU INDAH KAWAN

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya, suku, agama,dan adat istiadat (tradisi) yang dicerminkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari seprti dalam upacara adat, rumah adat, baju adat, nyanyian dan tarian daerah. Ciri khas inilah yang dapat di jadikan sumber pariwisata. Dari aceh sampai papua adalah Indonesia dan itu sah menurut sejarah dan UU, namun sampai sekarang masih banyak oknum-oknum yang masih ingin dan berusaha agar Pulau paling timur indonesia ini yaitu pulau papua Lepas dari bingkai Nusantara kita.


Saya sebagai warga negara indonesia masih miris melihat orang-orang yang entah apa tujuan dari pemikiran bodoh itu, dari dulu sampai saat ini ada saja orang yang ingin mencoba melepas papua dari Negara indonesia dan ingin mendirikan negara sendiri, cobalah untuk membuka mata dan hati kalian bung, Jangan taunya hanya bisa memeperkeruh, memprovokasi dan memberi doktrin buruk kepada generasi muda papua kita.


Supaya kam tau? Papua saat ini bukan lagi pulau tertinggal seperti dulu, bangunan sekarang menjulang tinggi dimana-mana, seperti mall untuk berbelanja dan mencari hiburan, bank untuk menabung dan menyimpan uang, dan sudah Banyak juga rakyat papua yang menjadi orang sukses, contohnya anggota kepolisian, TNI ,STPDN dan masih banyak lagi, itu semua karena kerja keras yang sungguh-sungguh dan pantang menyerah dengan keadaan, jangan sedikit-sedikit minta merdeka, sedikit-sedikit minta merdeka lagi, hey kalian orang-orang yang dikasihi oleh tuhan, cobalah berusaha dan bekerja keras, jangan hanya mengandalkan pemerintah sebagai sumber pendapatan kalian, bangkit dan berusahalah.

Sebagai warga negara kesatuan republik indonesia haruslah bangga kepada indonesia karena warga Indonesia bisa hidup berdampingan walaupun berbeda-beda suku dan ras, masih banyak juga orang papua yang menjalin ikatan pernikahan dengan pendatang sampai mendapat keturunan-keturunan yang sekarang banyak berkuliah di luar papua. Untuk itu marilah bersama-sama membangun papua lebih baik lagi jangan ada lagi konflik untuk mencoba merusak keadaan yang saat ini terjalin. A-p

Rabu, 01 Oktober 2014

Otsus Plus Papua, Jawaban atau Masalah Baru?

Ridiculous, itu mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana elite politik lokal Papua mengusahakan lolosnya RUU Otsus plus Papua setahun terakhir. Seperti halnya drama politik lainnya yang rata-rata memiliki jalan cerita yang aneh, alur yang terkadang tidak masuk akal serta ketidakjelasan siapa yang berperan sebagai antagonis dan siapa yang berperan sebagai prontagonis. Walaupun begitu, setiap drama politik terkadang menarik untuk dinikmati untuk sebagian orang, tapi untuk sebagian yang lain terasa begitu memuakan. Dan drama usaha elite politik Papua dalam usaha meloloskan RUU Otsus plus ini bagi saya sedikit memuakan.

UU No.21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua (UU 21/2001) merupakan hasil win-win solution antara kelompok separatis OPM yang ingin memisahkan diri, rakyat Papua yang tetap menginginkan Papua berada dalam Indonesia dan Pemerintah Indonesia sendiri. Perjuangan UU Otsus ini sebenarnya sudah dimulai sejak 26 Februari 1999 ketika 100 delegasi yang mewakili berbagai elemen Papua dengan pimpinan Thomas Beanal menghadap Presiden Habibie, walaupun ketika itu keinginan untuk otonomi khusus ini belum terwujudkan. Desakan kepada pemerintah pusat untuk segera menggodok dan mengesahkan undang-undang otonomi khusus untuk Papua ini mencapai puncaknya ketika diadakan Kongres Papua II di Jayapura tanggal 29 Mei – 3 Juni 2000. Akhirnya UU Otsus disahkan dengan ditandatangani oleh Presiden wanita pertama Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

UU Otonomi Khusus merupakan usaha untuk memajukan potensi Papua untuk rakyat Papua oleh rakyat Papua dengan melindungi hak ulayat dari orang Papua, sehingga Papua bisa menyusul ketertinggalan dibanding rakyat Indonesia lainnya di kawasan tengah dan barat. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah “untuk rakyat Papua”, bukan untuk segelintir rakyat Papua. Selama lebih dari 13 tahun penyelenggaraan UU Otsus di Papua ini dinilai belum maksimal untuk mensejahterakan dan memajukan rakyat Papua, oleh karena itu diajukanlah RUU baru, yang merupakan penyempurnaan dari UU Otsus Papua, yaitu RUU Otsus Plus Papua yang saat ini sedang diusahakan oleh para elite politik Papua.

Pertanyaannya adalah, apakah RUU Otsus Plus ini merupakan jawaban tepat untuk kurang maksimalnya pelaksanaan Otsus Papua? Apakah RUU Otsus Plus Papua ini tetap perjuangannya didasari oleh “untuk rakyat Papua” bukannya hanya segelintir saja?

Menurut Velix Wanggai, Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah, ada 3 pendekatan yang digunakan untuk mendesain Otsus Plus Papua ini, yang Pertama adalah Pemerintah akan melanjutkan aspek-aspek strategis yang telah diletakan dalam UU 21/2001. Kedua, mengubah, menyesuaikan dan melengkapi poin-poin strategis yang ada dalam UU 21/2001. Ketiga, Pemerintah memasukkan poin-poin strategis yang benar-benar baru, yang sebelumnya tidak diatur di dalam UU 21/2001. Selain itu, Velik juga menjelaskan bahwa , ada 5 kerangka utama yang ditekankan dalam RUU Otsus Plus Papua ini.

Pertama, kerangka kewenangan. Pemerintah ingin memperkuat Pemerintahan Papua dan Papua Barat dengan kewenangan dan urusan yang lebih luas.
Kedua, kerangka kebijakan pembangunan strategis. RUU ini memuat 25 kebijakan strategis pembangunan. Hal ini berbeda dengan UU 21/2001 yang hanya mencakup 9 sektor pembangunan.

Ketiga, kerangka keuangan daerah. Melalui RUU ini, Pemerintah ingin memperkuat dan memperluas kebijakan desentralisasi fiskal yang bersifat asimetris (asymmetrical fiscal decentralization). Pemerintah mengusulkan perubahan formula Dana Otonomi Khusus dan Dana Bagi Hasil, serta perluasan pemanfataan Dana Otsus yang dulu hanya pendidikan dan kesehatan, namun diperluas ke sejumlah sektor-sektor prioritas sesuai kebutuhan daerah. Demikian pula, diatur pola divestasi saham, kontrak kerjasama, penyertaan modal, maupun dana tanggungjawab sosial dunia usaha.

 Keempat, kerangka kelembagaan pemerintahan. Revisi UU Otsus Papua ini ingin memperkuat otonomi khusus di level provinsi, dan juga menguatkan peran dan kewenangan Gubernur, Majelis Rakyat Papua, Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), hubungan kewenangan Provinsi – Kabupaten/Kota, distrik, dan kampung. Di dalam RUU ini, Pemerintah mengajukan hanya ada 1 MRP yang kedudukannya di Jayapura, sebagai lembaga representasi kultural di seluruh Tanah Papua, tanpa dibatasi administrasi provinsi.

Kelima, kerangka politik dan hukum yang rekonsiliatif. Pemerintah ingin RUU ini hadir sebagai sarana penguatan re-integrasi dan rekonsiliasi sosial politik dalam negara kesatuan. Salah satu ide baru yang diusulkan yakni dibentuknya partai politik lokal bagi orang asli Papua.

Melihat dari hal-hal yang dipaparkan oleh Velix Wanggai, secara kasat mata akan terlihat bahwa RUU Otsus Plus ini akan menjadi kendaraan potensial rakyat Papua menuju kesejahteraan dan terpenuhinya hak-hak ulayat rakyat Papua. Tetapi kenapa saya katakan begitu ridiculous? Berikut alasan saya

Kurangnya Evaluasi Dari Pemerintah Daerah Papua

Selama ini, bila kita memperhatikan aksi-aksi unjuk rasa yang dilakukan organisasi-organisasi faksi politik dari OPM (Organisasi Papua Merdeka) seperti KNPB (Komite Nasional Papua Barat) dan AMP (Aliansi Mahasiswa Papua) selalu meneriakan tentang kegagalan Otsus Papua, kemudian menyalahkan pemerintah pusat terkait kegagalan tersebut. Bahkan, Ketua MRP (Majelis Rakyat Papua) dalam sidang MRP tahun 2010, Agus Alua mengatakan “Otonomi khusus gagal berarti sikap kita jelas refrendum”. Ada pikiran bahwa “Otsus gagal, maka pemerintah pusatlah masalahnya”. Entah lupa atau sengaja dilupakan, bahwa berhasil-tidaknya pelaksanaan Otsus Papua bukan hanya andil dari pemerintah pusat, pemerintah daerah Papua, sebagai pelaksana Otsus Papua juga ikut andil akan hal itu.

Hal ini perlu disadari oleh pemerintah daerah Papua, bila elite politik Papua selalu meneriakan “Otsus Gagal” maka tidak beda seperti melempar kotoran di muka sendiri. Bila Otsus dinilai gagal maka seharusnya pemerintah daerah Papua melaksanakan evaluasi yang mendalam. Prilaku korupsi para pejabat Papua dan tidak profesionalnya birokrat dan PNS di Papua (lihat : Identifikasi Permasalahan Papua Lewat Metode 5 Why’s Analysis) harus masuk dalam pembahasan evaluasi tersebut, bukan hanya menyerahkan segala kesalahan kepada pemerintah pusat. Evaluasi menyeluruh harus dilakukan oleh pemerintah daerah Papua dalam pelaksanaan Otsus Papua sebelum mengajukan RUU Otsus Plus Papua, agar kesalahan yang sudah terjadi, tidak terjadi kembali.

Lord Acton, seorang penulis dan politikus pernah mengatakan salah satu kalimat terkenalnya “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”. Bila melihat 5 kerangka utama RUU Otsus Plus Papua yang dipaparkan oleh Velix Wanggai di atas, maka pemerintah daerah Papua akan memiliki kewenangan yang luar biasa besar bila RUU Otsus Plus ini dilaksanakan. Tanpa evaluasi ke dalam yang menyeluruh oleh Pemerintah Daerah Papua, maka peningkatan kesejahteraan rakyat Papua tidak akan terjadi, malah yang meningkat adalah prilaku korupsi elite-elite Papua.

Hadirnya Pasal-pasal Kontroversial

Seperti yang dikatakan Velix Wanggai diatas, bahwa RUU Otsus ini akan menggunakan 3 pendekatan, dalam poin ketiga disebutkan bahwa , Pemerintah daerah Papua memasukkan poin-poin strategis yang benar-benar baru, yang sebelumnya tidak diatur di dalam UU 21/2001. Oleh sebab itu, ada beberapa “hal baru” yang akan dimajukan dalam RUU Otsus Papua. Beberapa “hal baru” yang diajukan terlihat begitu aneh dan mengada-ada, sebut saja pasal tentang pembentukan lembaga Gubernur Jenderal yang berposisi diatas 2 Gubernur Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Indonesia tidak mengenal sistem Gubernur Jenderal, selain itu motivasi pembentukan Gubernur Jenderal ini pun tidak jelas, oleh karena itu draft mengenai pasal Gubernur Jenderal pun dihapuskan.

Pasal lain yang kontroversial adalah pembentukan 1 MRP untuk kedua Provinsi, Papua dan Papua Barat. Elite politik Provinisi Papua menginginkan MRP membawahi kedua provinisi, sedangkan elite politik provinsi Papua Barat menginginkan MRP dibentuk di setiap provinisi di pulau Papua. MRP sendiri adalah sebuah lembaga yang beranggotakan penduduk asli Papua yang berada setara dengan DPRD. Dalam materi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus, Bab V, Bentuk dan Susunan Pemerintahan, secara eksplisit disebutkan bahwa pilar utama dalam penyelenggaraan pemerintahan Provinsi Papua terdiri dari tiga komponen. Tiga komponen itu adalah Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP/DPRD), Pemerintah Daerah (gubernur beserta perangkatnya), dan MRP. DPRP berkedudukan sebagai badan legislatif, Pemerintah Provinsi sebagai eksekutif, dan MRP sebagai lembaga representatif kultural orang asli Papua. Posisi MRP yang ada di setiap provinsi di Papua akan mengoptimalkan kinerja dari MRP sehingga bisa terus berkoordinasi dengan eksekutif dan legislative, selain itu MRP di setiap provinsi maka masyarakat adat di daerah tersebut akan lebih terepresentatifkan sehingga MRP tidak hanya menjadi lembaga tanpa kinerja saja.

Pasal lain yang tidak kalah kontroversialnya lagi adalah pembentukan partai politik daerah. Saya melihat ada semangat yang baik dalam pasal ini yaitu sebagai sarana penguatan re-integrasi dan rekonsiliasi sosial politik dalam negara kesatuan. Tetapi, menurut saya opsi partai politk lokal di Papua masih bersifat premature untuk Papua saat ini, karena beberapa hal sebagai berikut :

Pertama, Bentuk masyarakat Papua masih sangat bersifat sukuisme, masyarakat begitu terikat dengan sukunya. Perselisihan antar individu bisa membawa anggota suku yang lain. Bila dibentuk partai politik daerah di Papua, maka saya prediksi akan berbau kesukuan. Sehingga masalah yang berbau perselisihan antar suku akan terbawa dalam ranah politik dan kemudian terbawa dalam pemerintahan bila partai politik daerah diadakan di Papua. Kedua Bila berbicara mengenai partai politik lokal maka tidak mungkin tidak bicara mengenai Aceh. Saya melihat partai politk lokal di Aceh menjadi aspek penting berubahnya perjuangan bersenjata GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menjadi perjuangan politk dalam lingkup Indonesia. Sedangkan para gerilyawan OPM (Organisasi Papua Merdeka) belum menyetujui konsep Otsus, oleh karena itu keberadaan partai politik lokal di Papua tidak akan menjadi aspek perubahan perjuangan bersenjata OPM.

Saya meyakini bahwa Lukas Enembe, sebagai Gubernur Papua mempunyai niat yang baik dalam pengajuan RUU Otsus Plus Papua ini. Tapi untuk memajukan Papua tidak cukup hanya dengan niat yang baik saja, butuh eksekusi yang tepat di setiap lini. Pengajuan RUU Otsus Plus ini tidak seharusnya diajukan terburu-buru, butuh evaluasi yang mendalam di dalam birokrasi Pemerintah Papua sehingga kesalahan di Otsus yang diklaim gagal tidak diulang kembali. Butuh penelitian lebih lanjut mengenai “hal-hal baru” seperti partai politik lokal misalnya, apakah tepat dengan kondisi masyarakat Papua, agar “hal baru” tersebut yang pada awalnya memiliki semangat memenuhi hak masyarakat Papua tidak menambah permasalahan di Papua. Seperti kata seorang sutradara perempuan asal Russia, Sonya Leviaen yang mengatakan ”Good Intention Are Not Enough”.

Kamis, 25 September 2014

PRAJURIT TNI ASAL PAPUA MENJADI KORBAN KELOMPOK SIPIL BERSENJATA (KSB)

Penembakan terjadi lagi di wilayah Papua dimana pada tanggal 25 September 2014 di daerah Ilaga Puncak Jaya Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) melakukan penembakan terhadap anggota TNI,  dan mengakibatkan satu anggota TNI asal biak meninggal di tempat. Penembakan itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIT yang dilakukan oleh Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) terhadap anggota TNI dari Yonif 751/Raider yang sedang bertugas membantu pengamanan pelantikan Kepala Distrik Ilaga Puncak Jaya.

Kejadian tersebut bermula ketika pada tanggal 25 September 2014 anggota Yonif 751/Raider sedang bertugas membantu pengamanan pelantikan Kepala Distrik Ilaga Kabupaten Puncak Jaya. Ketika anggota TNI sedang mengambil logistik tepatnya di pasar Ilaga, tiba-tiba terjadi penembakan yang dilakukan oleh Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) terhadap anggota TNI Yonif 751/Raider yang mengakibatkan korban meninggal dunia terkena tembakan di bagian kepala atas nama Pratu Abraham Rumadas (Orang Biak)

Setelah itu korban dievakuasi ke Puskesmas Ilaga dan anggota dari Yonif 751/Raider lainnya melakukan pengejaran serta penutupan, namun terjadi penghadangan yang dilakukan oleh Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) dan terjadilah kontak tembak dan sampai dengan berita ini diturunkan kontak tembak masih berlangsung.

Dari kejadian tersebut Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Drs.Christian Zebua M.M mengintruksikan kepada seluruh prajurit yang sedang bertugas di lapangan agar meningkatkan kewaspadaan serta bisa membaca situasi dan keadaan yang berkembang di lapangan, khususnya prajurit yang bertugas di daerah konflik agar lebih hati-hati dan waspada dalam membaca situasi terlebih di sekitar pos–pos tempat bertugas.


Selanjutnya Pangdam XVII/Cenderawasih menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga Almarhum dan akan segera dilakukan evakuasi dari Ilaga ke Sentani  untuk disemayamkan di satuannya Asrama Yonif 751/Raider.

Rabu, 24 September 2014

KABUPATEN LANNY JAYA SAAT INI AMAN TERKENDALI

Kabupaten Lanny Jaya yang merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya yang terletak di kota Wamena, provinsi Papua. Kabupaten Lanny Jaya yang merupakan daerah rentan terhadap Konflik karena dua kampung disana yakni  kampung Pirime dan Kwiyagawi yang tidak begitu jauh letaknya, merupakan tempat Kelompok kriminal Bersenjata yang merupakan salah satu Faksi Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Konflik yang baru-baru ini terjadi di Pirime,  merupakan yang kesekian kalinya dari banyaknya konflik yang terjadi,  sehingga banyak warga mulai resah dan menganggap Kelompok Kriminal Bersenjata ini hanya meresahkan warga dan tidak membuat untung sama sekali bagi daerah Pirime dan sekitarnya. Mereka menganggap Kelompok bersenjata ini hanya memperlambat lajunya ekonomi, memeprovokasi keadaan, dan menakut-nakuti warga sekitar, hingga tak jarang dari masyarakat setempat pindah dari Kabupaten Lanny jaya karena menganggap sudah tidak aman lagi.

Warga sangat berharap Aparat segera bisa menangkap dan melumpuhkan Aksi kriminalisme yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Dan benar sekali, Aparat gabungan TNI-Polri yang bertugas disana berhasil melumpuhkan dan menangkap Kelompok Kriminal Bersenjata/ OPM. Ini merupakan hasil kerja sama antara warga sekitar yang dibantu oleh aparat keamanan (TNI-Polri). Aparat juga berhasil mendapatkan Amunisi dan Senjata milik KKB hasil operasi dipirime dan daerah rawan lainnya. Cukup banyak Aparat dari TNI maupun Polri diberikan KPLB Oleh komandan mereka karena berhasil melumpuhkan OPM.

Warga sangat berterimakasih atas kinerja TNI-Polri karena sukses membuat daerah di Pirime kondusif dan aman kembali seperti sebelumnya, Warga berharap kedepannya Aparat TNI dan Polri bisa memperlancar lagi proses perekonomian di Wilayah pegunungan serta selalu memberikan rasa aman terhadap Rakyat yang tinggal di daerah Pirime dan sekitarnya. A-P

Rabu, 17 September 2014

Pentingnya Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja di Papua

Papua merupakan pulau kaya yang memiliki Budaya dan tempat Pariwisata yang sangat bagus, bukan hanya itu, masyarakatnya juga ramah-ramah serta banyak Wistawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Pulau paling timur Indonesia ini, hanya saja di papua khususnya di kota Jayapura cukup banyak remaja-remaja yang belum menyadari betapa pentingnya kesehatan reproduksi. Kesehatan Reproduksi merupakan suatu keadaan seseorang baik secara fisik dan mental, agar terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, seorang remaja sangat mudah /rentan terpengaruh oleh hal-hal negatif yang menurutnya wajar karena merasa sudah besar dan bisa melakukan apa saja.

Masa remaja adalah masa yang paling indah karena pada masa-masa inilah banyak perubahan yang kita alami mulai dari perubahan fisik maupun sikap. Dari yang tadinya tidak tahu menjadi ingin tahu dan banyak juga remaja-remaja di papua terjebak dan tidak sadar betapa pentingnya Kesehatan reproduksi bagi dirinya, contohnya seperti remaja-remaja yang yang positif mengidap penyakit HIV-AIDS dan penyakit-penyakit berbahaya lainnya.

Di era sekarang tingkat kesadaran remaja-remaja Papua masih rendah dan belum nampak soal Kesehatan Reproduksi. Mereka seolah menikmati hal-hal yang sudah jelas di larang oleh agama dan tidak pantas dilakukan. Sudah banyak remaja-remaja papua, laki-laki maupun perempuan yang terjebak dengan hal-hal negatif dan lupa akan pentingnya kesehatan reproduksi karena menganggap hal-hal negatif seperti sex bebas merupakan hal yang lumrah dan sudah biasa di jaman sekarang.kebanyakan hal Ini terjadi akibat salah dalam bergaul, ekonomi rendah, dan kurang pengawasan dari orang tua remaja tersebut.


Di harapkan kepada orang tua agar lebih jeli dan saling terbuka dengan anaknya yang baru tumbuh sebagai remaja, karena orang tualah yang menjadi contoh baginya. Kesehatan reproduksi bagi remaja merupakan hal yang sangat penting karena menyangkut dengan masa depan yang nantinya bakal menjadi generasi penerus bangsa, untuk itu mari tingkatkan kesadaran dan saling memberitahu kepada sesama serta hindari pergaulan-pergaulan bebas yang justru akan merusak generasi muda bangsa ini. A-P

Sabtu, 30 Agustus 2014

Kejanggalan Dibalik Penolakkan Otopsi Marthinus Yahume

Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Marthinus Yohame diduga sebagai mayat misterius yang ditemukan beberapa hari lalu oleh seorang nelayan di Pulau Nana, Distrik Doom, Kabupaten Sorong.Mayat misterius ini diyakini sebagai Marthinus Yohame setelah keluarga melihat berdasarkan ciri-ciri fisik yang ada pada korban. Kepolisian yang akan melakukan otopsi guna mengetahui penyebab kematian korban, apakah dipukuli dengan benda tumpul, terkena sabetan atau tikaman benda tajam atau bahkan bisa diketahui bahwa korban ditembak dan lain-lain, ditolak oleh pihak keluarga.Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Sulistyo Pudjo yang mengkonfirmasi berita tersebut menyatakan bahwa sudah ada beberapa orang yang mewakili keluarga korban dan dipimpin kepala suku mereka datang ke Polresta Sorong. 
Mereka datang menemui Kapolres dan Kasatreskrim untuk menyatakan menolak dilakukannya otopsi pada jenazah, entah apa alasannya namun telah dijelaskan kepada keluarga bahwa otopsi yang akan dilakukan merupakan syarat mutlak dalam pengungkapan kasus tersebut.Kematian ketua KNPB ini menimbulkan kesimpangsiuran tentang sebab kematiannya, berdasarkan informasi yang beredar bahwa Mathinus Yahume dikabarkan hilang setelah melakukan jumpa pers terkait kedatangan Presiden RI ke Sorong pada Pukul 15.00 WIT. Beberapa menit klemudian selesai jumpa pers, kemudian seorang perempuan dari Komnas HAM menelpon Martinus Yohame untuk mengadakan pertemuan. Kemudian perempuan tersebut beserta rombongannya lalu datang menemui Martinus di depan kantor Walikota Sorong, dengan menggunakan mobil avanza warna merah, lalu mengajak Martinus pergi bersama mereka menuju ke toko Mega Mal Sorong, KM 9 Sorong untuk makan bersama sambil membicarakan sesuatu yang tidak diketahui dalam pertemuan tersebut.Sebelum bubar keduanya saling bertukar No HP, dan perempuan tersebut mengatakan bahwa akan menghubungi Marthinus untuk melakukan pertemuan selanjutnya pada hari Rabu, 20 Agustus 2014. Selanjutnya komunikasi dilakukan melalui telepon dan SMS hingga terakhir pada hari Rabu malam (20/8) pukul 24.00 WIT, hari dimana hilangnya Marthinus.Hal inilah yang lalu kemudian dengan sengaja disimpulkan oleh KNPB, dengan memunculkan persepsi bahwa pelaku penculikan dan pembunuhan adalah pihak keamanan, baik TNI maupun Polri. Namun sebelumnya yang perlu menjadi pertanyaan adalah apa sebenarnya yang terjadi dalam pertemuan seorang perempuan dari Komnas HAM dengan Martinus? Kenapa Marthinus Yahume tidak ditemani dengan rekan-rekannya yang lain pada saat pertemuan tersebut?Jika dilihat dari saratnya konflik kepentingan yang terjadi di tubuh KNPB, hal ini sangatlah wajar jika Martinus memilih untuk tidak ditemani rekannya saat bertemu dengan Komnas HAM tersebut.
Hal ini kemungkinan dapat dijadikan sebagai keuntungan positif baginya jika andai saja ada penawaran menarik yang diberikan kepadanya.Dan bukan hal aneh jika pertemuan yang terjadi dengan sang perempuan tersebut tidak diketahui teman-temannya dengan harapan sang Ketua lah yang mengeruk keuntungan pribadi tersebut.Pernah disampaikan Yalli Kombo, bahwa pernah ada pihak TNI yang mendatangi dan berkoordinasi ke Sekretariat KNPB dengan menggunakan Toyota Avansa warna putih, mencari Martinus pada 21 Agustus 2014 malam dan 22 Agustus 2014 pagi, untuk mengantarkan oleh-oleh langsung kepada Martinus dan tidak boleh diwakilkan.Hal ini jelas pula disampaikan oleh Agus Kosay dalam pernyataannya bahwa ada juga pihak Kodim yang ingin memberikan uang dari Jakarta dan tidak bisa diwakilkan. Mengapa tidak boleh diwakilkan? Seolah-olah segalanya adalah hak prerogatif dari sang Ketua. Ditambah lagi kedekatan sang Ketua dengan pihak aparat keamanan menjadi suatu 'ancaman' bagi pergerakan KNPB. Hal ini tentu menambah kekecewaan di kalangan anggota KNPB sendiri. Mengapa Martinus seolah-olah menyembunyikan sesuatu dari rekan-rekannyaKejadian-kejadian di atas menjadi puncak dari konflik kepentingan yang terjadi di antara kalangan KNPB sendiri.
Satu hal yang menjadi penting untuk dipertanyakan adalah mengapa pihak KNPB dan keluarga menolak untuk melakukan autopsi, dan hanya melakukan visum luar terhadap mayat Martinus? Padahal dari hasil visum yang dilakukan oleh pihak RSUD Sorong bahwa terjadi kematian yang tidak wajar dimana pada dada kiri korban terdapat luka lubang berdiameter 1 cm.Seandainya dilakukan autopsi terhadap mayat tersebut tentu akan jelas terungkap apa penyebab luka lubang berdiameter 1 cm tersebut, penyebab, waktu dan modus, dan bukti-bukti yang terdapat dari tubuh korban.Penolakkan pihak keluarga yang didampingi pihak KNPB terhadap dilakukannya autopsi, menimbulkan pertanyaan, ada apa gerangan? Apakah untuk mengarahkan opini dan persepsi publik bahwa pelaku seolah-olah berasal dari aparat keamanan?  Mengingat dari persepsi yang disebarkan pihak KNPB bahwa lubang di dada tersebut adalah akibat ditembak oleh peluru tajam. Padahal lubang berdiameter 1 cm tersebut tidaklah melulu oleh karena peluru tajam. Seandainyapun itu adalah peluru tajam, seandainya dilakukan autopsi dan pengangkatan peluru, maka akan dapat diketahui jenis peluru tersebut. Mengingat akan sangat mudah untuk mengenali apakah itu peluru organik atau bukan.